Minggu, 20 Desember 2009

Perasaanku Hari Ini

20 Desember 2009

  • Aku senang karena dibeliin mainan sama ayah sama bunda
  • aku tadi diajak bunda ke rumah tante yayuk

Selasa, 17 Maret 2009

Foto-Foto Detya


Lagi berpose.."suster ngesot"


Maen di Pantai "Boom" Banyuwangi April 2008


Dalam rangka foto nyari yang bagus buat kartu ucapan Hari Ibu Desember 2007


Lebaran di Kediri 2007


Di Kediri juga 2007

Rabu, 11 Maret 2009

Perkembangan Detya

Sudah lama ga update cerita terbaru tentang Detya. Januari kemaren dia sudah 6 tahun...masih saja seperti dulu...sangat menyenangkan...walau penakutnya ga ilang-ilang dan manjanya semakin saja muncul...Dia sangat suka nempel-nempel...artinya jika kami duduk berdampingan, dia akan menggelendot ke bahuku yang masih saja bikin aku ga nyaman (karena posisi terjepit gini membuatku sesak napas..)..jika jalan-jalan dia ga cukup hanya dengan menautkan jari kami tapi harus menggelendot ke lenganku...jika duduk di kursi panjang..dia langsung merebahkan kepalanya ke pangkuanku... Dia ga pernah bisa menerima jika aku masih harus banyak membantu Wisam..(ya iyalah...dia kan belum juga 2 tahun..)..atau jika aku menyuapi Javas (yang susah makan)..dia akan minta perlakuan yang sama.. dia minta perlakuan yang sama bagia mereka bertiga..dan aku ga lelah-lelah mengingatkan bahwa tidak mesti adil itu harus diperlakukan sama..

Tapi dia juga sangat pengertian...jika Wisam dan Javas berebutan mainan..dia akan emngingatkan Javas untuk lebih sabar...dia akan mengangkat Wisam jika sudah mulai main fisik ke Javas...(karena dia tau tidak seharusnya Javas membalas...jadi sebelum Javas hilang kesabaran..dia akan memisahkan adik-adiknya itu)...jika aku sudah mulai bicara nada tinggi, dengan enteng dia akan mengingatkan aku untuk lebih sabar sesuai permintaanku padanya untuk selalu mengingatkan aku... dia juga akan dengan enteng (cenderung merajuk) minta ke ayahnya untuk memenuhi segala yang dia mau.. walau akhirnya ga semudah itu untuk terpenuhi...

Menurutku dia, gadis yang sempurna untuk anak seusianya..dibanding aku dulu...aku selalu berusaha (walau ternyata natural responku kadang muncul) untuk bersikap demokratis padanya..bahwa dia juga punya kemauan dan pendapat pribadi...bahwa walau dia anakku dia bisa mengkritik aku.. bahwa aku ga akan melakukan apa yang dulu ibuku lakukan padaku..(ga pernah bacain aku cerita..ga pernah menyiapkan sarapan..suka sekali menghukum fisik..bicara keras...selalu menyuruhku diam jika aku bertanya-tanya...yang akhirnya mematikan semua keberanianku..)

Ahh...aku hanya ingin yang terbaik untuk anak gadisku...anak-anakku semua..

Selasa, 26 Agustus 2008

100% Full Attention for Detya

Minggu pagi ketika kami hendak berangkat bersama Javas, Detya tidak serta merta melepas kami begitu saja. Tapi dengan diskusi dan negosiasi akhirnya Detya menerima bahwa gilirannya bertiga saja adalah nanti sore. Sempat ada tangisan dan rengekan, tapi seperti biasa, Detya adalah anak yang sangat komunikatif. Dengan alasan yang jelas dan bisa dia terima maka dia akan menerima semua masukan (itu yang sangat disukai guru-gurunya, gampang berbicara dengan Detya).

Maka sore hari sepulang dari Poncol dan Puri Kembangan, kami meminta detya untuk segera mandi. Dia tidak begitu semangat karena sempat melihat dan ikut bermain perlengkapan perang-perangan punya Javas. Detya sangat tertarik dan enggan beranjak dari permainan itu, sampai Bunda menawarkan dia untuk memilih tetap bermain atau sesuai perjanjian pagi itu. Tentu saja dia lebih memilih pergi bersama kami.

Kami hanya pergi ke CBD dan belanja keperluan bekal anak-anak sekolah (susu dan snack). Juga membeli jam yang Detya inginkan (sepertinya dia hanya ikut-ikutan karena banyak teman di sekolah yang pakai). Karena kami hanya naik motor dan ternyata belanjaannya terlalu banyak maka kami tidak bisa melakukan hal-hal lain. Sepertinya acara Detya gagal dan dia juga banyak bertanya kenapa ga jadi ini ga jadi itu sesuai perjanjian pagi? Heehhhh....maafkan kami Detya..minggu depan kami akan berusaha lebih baik lagi

Jumat, 15 Agustus 2008

Bertanggung Jawab

Hmmm..barusan bunda menguji anak-anak dan hasilnya memuaskan.
Diawali dengan permintaan Detya membeli jilbab karena dia ingin memakainya ke sekolah. OK, Bunda bisa memenuhi, untuk itu Bunda jemput ke TPA dan langsung ke koperasi. Ternyata koperasi ga jualan jilbab, dan alhamdulillah Detya tidak memaksa.
Nah, di pintu koperasi ada penjual makanan ringan yang tampilannya sangat menggoda, sehingga mampir dulu disitu. Icip sini..icip situ akhirnya anak-anak memilih permen agar dan Bunda pilih 3 cemilan. Setelah itu karena lapar berat Bunda mengajak ke kantin dan nyoto disitu. Anak-anak memilih air jeruk dengan esnya sedikit saja. OK, Bunda setuju dengan catatan minuman itu untuk berdua seperti halnya permen agar tadi.
Baru saja Detya memegang gelas jus jeruk itu dan berjalan menuju meja, tiba-tiba entah bagaimana gelas plastik itu tumpah dan isinya tumpah ruah kemana-mana. Bunda hanya memanggil penjualnya biar membersihkan tumpahan itu dan selanjutnya Bunda diamkan saja Detya dan Javas yang hanya bisa menatap.
"Sudah ya..karena memang sudah tumpah maka ga ada gantinya ya..."
Detya diam dan Javas agak cemberut.
"Apa kalian mau jeruknya lagi...?"
Mereka hanya menatap Bunda tanpa ada jawaban sama sekali.
Tante Yayuk yang juga menemani Bunda makan ikut bicara "Kasihan mereka..sudaah..belikan saja.."
"Engga begitu Tante...Mereka kan sedang belajar bertanggung jawab... OK, kalau kalian masih ingin jus jeruk maka permen agar tadi Bunda simpan buat besok saja"
Akhirnya Detya memilih "Ga usah beli lagi deh, aku mau permennya saja."
"Bagaimana dengan Javas, setuju ga..?"
"Iya Bunda aku mau permennya saja."
Selesai deh...Tante Yayuk sampai terheran-heran.
Dapet 3 permen masing-masing, Bunda hentikan karena bagaimanapun jika terlalu banyak akan tidak baik buat mereka. Selanjutnya Bunda minta bantuan Detya untuk mengambil cemilan yang tadi sedang dikemas. Alhamdulillah, dia mau. Padahal Ayah sering mengeluh karena mereka dianggap ga berani untuk memulai bicara sendiri ke penjual barang. Selalu diem aja kalau disuruh memulai sendiri, sampai Ayah jengkel. Menurut Bunda sih...kita jangan terlalu demanding ke anak-anak. Kita iringi saja tapi jangan dilepas sendiri karena mereka pasti belum PD untuk mulai. Dengan begitu lama-lama mereka akan memberanikan diri mereka sendiri untuk memulai. Dan terbukti kan, karena tidak lama kemudian Detya sudah kembali dengan bungkusan cemilan di tangan.
Hal terakhir, Bunda minta mereka untuk jalan sendiri ke TPA karena Bunda akan langsung ke kantor. Mereka setuju dan langsung pergi. Tentu saja Bunda ga langsung ke kantor tapi mengawasi mereka dari kejauhan. Walaupun dengan sedikit berjalan-jalan di depan mesjid akhirnya mereka pun nyampe di TPA.
Ah...senengnya...anak-anakku sudah ikhlas bertanggung jawab.